MAKALAH ULUMUL QUR'AN ASBABUN NUZUL
MAKALAH
DOSEN : Bapak Abdul wahab,MHI
DOSEN : Bapak Abdul wahab,MHI
Silviana (S20183006)
Dewi sri lestari (S20183051)
Reza janitra dananjaya(S20183026)
Nurul husin (S20183048)
Dinda dwi putri rizky (S20183021)
Dewi sri lestari (S20183051)
Reza janitra dananjaya(S20183026)
Nurul husin (S20183048)
Dinda dwi putri rizky (S20183021)
PROGAM STUDI HUKUM TATA NEGARA 1
SYARIAH
IAIN JEMBER
SEPTEMBER 2018
SYARIAH
IAIN JEMBER
SEPTEMBER 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah Subhanallah Wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Tanpan pertolongan-Nya mungkin kami tidak sanggup untuk menyelesaikan dengan baik.
Sholawat serta salam tetap teralir deraskan teruntuk baginda Nabi Muhammad SAW. yang mana telah membawa masyarakat jahiliyah menuju zaman ilmiyah yang sangat maju ini. Dalam penyelesaian makalah ini maka dengan setulus hati kami mengucapkan terimah kasih kepada:
Bapak Abdul wahab, MHI yang telah senantiasa membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.
Serta teman-teman kami yang telah memberikan semangat kepada kami.
Puji syukur atas kehadirat Allah Subhanallah Wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Tanpan pertolongan-Nya mungkin kami tidak sanggup untuk menyelesaikan dengan baik.
Sholawat serta salam tetap teralir deraskan teruntuk baginda Nabi Muhammad SAW. yang mana telah membawa masyarakat jahiliyah menuju zaman ilmiyah yang sangat maju ini. Dalam penyelesaian makalah ini maka dengan setulus hati kami mengucapkan terimah kasih kepada:
Bapak Abdul wahab, MHI yang telah senantiasa membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.
Serta teman-teman kami yang telah memberikan semangat kepada kami.
Kami sadar sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran penulisan makalah ini tentunya masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita Amiiin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................
LATAR BELAKANG ........................................................................................
RUMUSAN MASALAH ....................................................................................
TUJUAN PENULISAN MAKALAH .................................................................
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................
PENGERTIAN ASBAB AN-NUZUL................................................................
MACAM-MACAM PEMBAGIAN ASBAB AN-NUZUL................................
BEBERAPA REDAKSI ASBAB AN-NUZUL..................................................
BERBILANNYA ASBAB AN-NUZUL SUATU AYAT...................................
MANFAAT MEMPELAJARI ASBAB AN-NUZUL.........................................
BAB III PENUTUP...............................................................................................................
KESIMPULAN....................................................................................................
SARAN.................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
KATA PENGANTAR...........................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................
LATAR BELAKANG ........................................................................................
RUMUSAN MASALAH ....................................................................................
TUJUAN PENULISAN MAKALAH .................................................................
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................
PENGERTIAN ASBAB AN-NUZUL................................................................
MACAM-MACAM PEMBAGIAN ASBAB AN-NUZUL................................
BEBERAPA REDAKSI ASBAB AN-NUZUL..................................................
BERBILANNYA ASBAB AN-NUZUL SUATU AYAT...................................
MANFAAT MEMPELAJARI ASBAB AN-NUZUL.........................................
BAB III PENUTUP...............................................................................................................
KESIMPULAN....................................................................................................
SARAN.................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Al-Qur’an adalah mukjizat bagi umat islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk di sampaikan kepada umat manusia.Al-Qur’an sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses yang mana dalam penurunannya itu berangsur-angsur dan bermacam-macam Nabi menerimanya. Kita mengenal turunnya Al-Qu’an sebagai tanggal 17 Ramadahan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Qur’an yaitu hari turunnya Al-Qur’an.
Mengetahi latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, akan menimbulkan perspektif dan menambah khazanah perbendaharaan pengetahuan baru. Dengan mengetahui hal tersebut kita akan lebih memahami arti dan makna ayat-ayat itu dan akan menghilangkan keraguan-keraguan dalam menafsirkannya. Dalam penurunan Al-Qur’an terjadi di dua kota yaitu Madinah dan Mekkah. Surat yang turun di mekkah disebut dengan makkiyah sedangkan surat yang turun di Madinah disebut dengan surat Madaniyah.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
Apa pengertian dari Asbab An-nuzul itu?
Bagaimana cara mengetahui Asbab An-nuzul?
Sebab-sebab turunnya Asbab An-nuzul?
Bagaimana pandangan ulama tentang Asbab An-nuzul?
c. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Asbab An-nuzul itu.
Latar Belakang
Al-Qur’an adalah mukjizat bagi umat islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk di sampaikan kepada umat manusia.Al-Qur’an sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses yang mana dalam penurunannya itu berangsur-angsur dan bermacam-macam Nabi menerimanya. Kita mengenal turunnya Al-Qu’an sebagai tanggal 17 Ramadahan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Qur’an yaitu hari turunnya Al-Qur’an.
Mengetahi latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, akan menimbulkan perspektif dan menambah khazanah perbendaharaan pengetahuan baru. Dengan mengetahui hal tersebut kita akan lebih memahami arti dan makna ayat-ayat itu dan akan menghilangkan keraguan-keraguan dalam menafsirkannya. Dalam penurunan Al-Qur’an terjadi di dua kota yaitu Madinah dan Mekkah. Surat yang turun di mekkah disebut dengan makkiyah sedangkan surat yang turun di Madinah disebut dengan surat Madaniyah.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
Apa pengertian dari Asbab An-nuzul itu?
Bagaimana cara mengetahui Asbab An-nuzul?
Sebab-sebab turunnya Asbab An-nuzul?
Bagaimana pandangan ulama tentang Asbab An-nuzul?
c. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Asbab An-nuzul itu.
PEMBAHASAN
ASBAB AL-NUZUL
ASBAB AL-NUZUL
PENGERTIAN ASBAB AL-NUZUL
Menurut bahasa “Asbab Al-Nuzul” berarti turunnya ayat-ayat Alquran. Alquran diturunkan Allah SWT. Kepada Muhammad SAW. Secara berangsur-angsur dalam masa lebih kurang 23 tahun. Alquran diturunkan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak,dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran.
Ungkapan asbab Al-nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata “asbab” dan “nuzul”. Secara etimologi, asbab Al-nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu bisa disebut asbab Al-nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan asbab Al-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya wurud yang secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadits.
Banyak pengertian terminologi yang dirumuskan oleh para ulama, diantaranya:
Menurut Az-Zarqani: “Asbab Al-Nuzul” adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Qur’an sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.”
Ash-Shabuni: “Asbab Al-Nuzul” adalah peristia atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubunan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.”
Shubhi shalih: Artinya: “Asbab Al-Nuzul” adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu,sebagai respons atasnya. Atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum di saat peristwia itu terjadi”
Mana’ Al-Qthathan: Artinya: “Asbab Al-Nuzul” adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Quran berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.”
Sebab-sebab turun ayat dalam bentuk peristiwa ada tiga macam:
Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan yang berkecamuk antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj.
ياايهاالذين امنوا ان تطيعو ا فريقا من الذ ين او توا الكتب يردو كم بعد ايما نكم كفرين (ال عمران:100
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu ingin mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”. (Q.S. Ali Imran:100)
Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang yang mengimami salat sedang mabuk sehingga tersalah membaca surat Al-Kafirun. Ia baca
قل ياايها الكفرون.اعبد ما تعبد ون
Menurut bahasa “Asbab Al-Nuzul” berarti turunnya ayat-ayat Alquran. Alquran diturunkan Allah SWT. Kepada Muhammad SAW. Secara berangsur-angsur dalam masa lebih kurang 23 tahun. Alquran diturunkan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak,dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran.
Ungkapan asbab Al-nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata “asbab” dan “nuzul”. Secara etimologi, asbab Al-nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu bisa disebut asbab Al-nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan asbab Al-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya wurud yang secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadits.
Banyak pengertian terminologi yang dirumuskan oleh para ulama, diantaranya:
Menurut Az-Zarqani: “Asbab Al-Nuzul” adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya ayat Al-Qur’an sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.”
Ash-Shabuni: “Asbab Al-Nuzul” adalah peristia atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubunan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.”
Shubhi shalih: Artinya: “Asbab Al-Nuzul” adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu,sebagai respons atasnya. Atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum di saat peristwia itu terjadi”
Mana’ Al-Qthathan: Artinya: “Asbab Al-Nuzul” adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Quran berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.”
Sebab-sebab turun ayat dalam bentuk peristiwa ada tiga macam:
Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan yang berkecamuk antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj.
ياايهاالذين امنوا ان تطيعو ا فريقا من الذ ين او توا الكتب يردو كم بعد ايما نكم كفرين (ال عمران:100
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu ingin mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”. (Q.S. Ali Imran:100)
Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang yang mengimami salat sedang mabuk sehingga tersalah membaca surat Al-Kafirun. Ia baca
قل ياايها الكفرون.اعبد ما تعبد ون
Dengan tanpa ... لا. pada ... لا اعبد. . peristiwa ini menyebabkan turunnya ayat:
يا ايها الذ ين امنوا لا تقربوا الصلوة وانتم سكرئ حتى تعلموا ما تقولون
( النساَ:43)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri salat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan........”. (Q.S. An-Nisa’: 43)
Peristiwa itu berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian (muafaqat) Umar bin Al-Khattab dengan ketentuan ayat-ayat Alquran.
يا ايها الذ ين امنوا لا تقربوا الصلوة وانتم سكرئ حتى تعلموا ما تقولون
( النساَ:43)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri salat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan........”. (Q.S. An-Nisa’: 43)
Peristiwa itu berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian (muafaqat) Umar bin Al-Khattab dengan ketentuan ayat-ayat Alquran.
Adapun sebab-sebab turun ayat yang dalam bentuk pertanyaan dapat dikelompokkan kepada tiga macam.
Pertanyan berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu, seperti ayat:
و يسئلو نك عن ذى القر نين ( اكهف : 83 )
Pertanyan berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu, seperti ayat:
و يسئلو نك عن ذى القر نين ( اكهف : 83 )
Artinya: “mereka bertanya kepadamu tentang Zulkarnain”. (Q.S. Al-Kahfi: 83)
Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu, seperti ayat:
و يسئلو نك عن الروح قل الروح من امر ربى و ما اوتيتم من العلم الا قليلا( الاسرا : 85 )
Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu, seperti ayat:
و يسئلو نك عن الروح قل الروح من امر ربى و ما اوتيتم من العلم الا قليلا( الاسرا : 85 )
Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah bahwa ruh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit”. (Q.S. Al-Isra’: 85)
Pertanyaan yang berhubungan dengan masa yang akan datang, seperti ayat:
يسئلو نك عن السا عة ايا ن مر سا ها ( ا لنا زعات:42 )
Pertanyaan yang berhubungan dengan masa yang akan datang, seperti ayat:
يسئلو نك عن السا عة ايا ن مر سا ها ( ا لنا زعات:42 )
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat,kapankah terjadinya?”. (Q.S. An-Naziat: 42)
Kemudian, turunlah jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut yang di dalamnya terkandung pengarahan Allah bagi Rasul-Nya berupa pengecualian dengan mengucapkan “IN SHAA ALLAH” Allah berfirman:
ولا تقو لن لشا ىء انى فا عل ذلك غدا الا ان ىشاء الله واذكر ربك اذا نسيت وقل عسى ان يهد ين ربى لا قرب من هدا رشدا ( ا لكهف : 22-24 )
Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu katakan terhadap sesuatu: “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi” kecuali (dengan menyebut): “insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannyadaripada ini” (Q.S. Al-Kahf: 23-24)
Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu katakan terhadap sesuatu: “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi” kecuali (dengan menyebut): “insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannyadaripada ini” (Q.S. Al-Kahf: 23-24)
Kemudian kata ..... dalam definisi di atas merupakan pembatasan yang harus ada untuk membedakannya dari ayat-ayat yang turun tanpa sebab. Sekalipun ayat-ayat itu berbicara tentang peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan yang terjadi di masalalu atau yang akan datang, seperti sebagian kisah para nabi dan bangsa-bangsa terdahulu dan pembicaraan tentang hari kiamat serta hal-hal yang berkaitan dengannya, namun kisah-kisah dan hal-hal hari kiamat itu bukan sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
Definisi sebab An-Nuzul yang dikemukakan di atas membawa kepada pembagian ayat-ayat al-quran kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang turun tanpa sebab, dankedua adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu.
Definisi sebab An-Nuzul yang dikemukakan di atas membawa kepada pembagian ayat-ayat al-quran kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang turun tanpa sebab, dankedua adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu.
MACAM-MACAM ASBAB AL-NUZUL DAN PEMBAGIANNYA
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang di turun asbab An-Nuzul dapat dibagi kepada Ta’addud Al-Asbab Wa Al-Nazal Wahid ( sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu ) dan Ta’addud Al-Asbab Wa Al-Nazal Wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu). Sebab turun ayat tersebut Ta’addud bila ditemukan dua riwayat yang berbeda atau lebih tentang sebab turunnya suatu ayat atau sekelompok ayat tertentu. Sebaliknya, sebab turun itu disebut Wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu. Satu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut Ta’addud Al-Nazil, bila inti persoalan yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih dari satu persoalan.
Jika di temukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka kedua riwayat ini diteliti dan dianalisis. Permasalahannya ada empat bentuk. Pertama salah satu dari keduanya sahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya sahih, akan tetapi salah satunya mempunyai penguat (murajjih) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya sahih dan sama-sama tidak mempunyai penguat (murajjih). Akan tetapi keduanya dapat diambil sekaligus. Bentuk keempat, keduanya sahih tidak mempunyai penguat (murajjih), dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.
Bentuk pertama diselesaikan dengan jalan memilih riwayat yang sahih dan menolak yang tidak sahih. Misalnya perbedaan yang terjadi antar riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya dari satu pihak dan riwayat At-Tabrani dan Ibnu Abi syaibah dipihak lain. Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari jundab. Ia (jundab) berkata: “ Nabi SAW. Kesakitan sehingga ia tidak bangun satu atau dua malam: seorang perempuan datang kepada dan berkata:”Hai Muhammad, saya tidak melihat setanmu kecuali ia telah meninggalkanmu”.
Bentuk kedua ialah keadaan dua riwayat itu sahih. Akan tetapi, salah satu diantaranya mempunyai penguat (murajjih). Penyelesaianya ada dengan mengambil yang kuat rajihah. Penguat (murajjih) itu adalah salah satunya lebih sahih dari yang lainnya atau periwayat salah satu dari keduanya menyaksikan kisah itu berlangsung sedang periwayat lainnya tidak demikian. Misalnya, hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dan dari Ibnu Mas’ud Ia (Ibnu Mas’ud) bekata: “ saya berjaln bersama. Nabi SAW. di Madinah dan ia (Nabih)bertongkatkan pelapah kurma. Ia melewati sekelompok orang Yahudi. Mereka berkata kepada sebagian yang lainnya: “ Coba kamu tanya dia” maka mereka berkata: “ Ceritakan kepada kami tentang ruh”.
Bentuk ketiga ialah kesahihan dua riwayat itu sama dan tidak ditemukan penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya. Akan tetapi,keduanya dapat dilkompromikan. Kedua sebab itu benar terjadi dan ayat turun mengiringi peristiwa tersebut karena masa keduanya berhampiran. Penyelesaiann adalah dengan menganggap terjadinya beberapa sebab turunnya ayat tersebut.
Bentuk keempat ialah keadaan dua riwayat itu sahih, tidak ada penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya atas lainnya, dan tidak pula mungkin menjadikan keduanya sekaligus sebagai Asbab An-nuzul karna waktu peristiwanya jauh berbeda. Penyelesaian masalah ini adalah dengan menganggap berulang-ulangnya ayat itu turun sebanyak Asbab An-Nuzulnya.
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang di turun asbab An-Nuzul dapat dibagi kepada Ta’addud Al-Asbab Wa Al-Nazal Wahid ( sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu ) dan Ta’addud Al-Asbab Wa Al-Nazal Wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu). Sebab turun ayat tersebut Ta’addud bila ditemukan dua riwayat yang berbeda atau lebih tentang sebab turunnya suatu ayat atau sekelompok ayat tertentu. Sebaliknya, sebab turun itu disebut Wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu. Satu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut Ta’addud Al-Nazil, bila inti persoalan yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih dari satu persoalan.
Jika di temukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka kedua riwayat ini diteliti dan dianalisis. Permasalahannya ada empat bentuk. Pertama salah satu dari keduanya sahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya sahih, akan tetapi salah satunya mempunyai penguat (murajjih) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya sahih dan sama-sama tidak mempunyai penguat (murajjih). Akan tetapi keduanya dapat diambil sekaligus. Bentuk keempat, keduanya sahih tidak mempunyai penguat (murajjih), dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.
Bentuk pertama diselesaikan dengan jalan memilih riwayat yang sahih dan menolak yang tidak sahih. Misalnya perbedaan yang terjadi antar riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya dari satu pihak dan riwayat At-Tabrani dan Ibnu Abi syaibah dipihak lain. Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari jundab. Ia (jundab) berkata: “ Nabi SAW. Kesakitan sehingga ia tidak bangun satu atau dua malam: seorang perempuan datang kepada dan berkata:”Hai Muhammad, saya tidak melihat setanmu kecuali ia telah meninggalkanmu”.
Bentuk kedua ialah keadaan dua riwayat itu sahih. Akan tetapi, salah satu diantaranya mempunyai penguat (murajjih). Penyelesaianya ada dengan mengambil yang kuat rajihah. Penguat (murajjih) itu adalah salah satunya lebih sahih dari yang lainnya atau periwayat salah satu dari keduanya menyaksikan kisah itu berlangsung sedang periwayat lainnya tidak demikian. Misalnya, hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dan dari Ibnu Mas’ud Ia (Ibnu Mas’ud) bekata: “ saya berjaln bersama. Nabi SAW. di Madinah dan ia (Nabih)bertongkatkan pelapah kurma. Ia melewati sekelompok orang Yahudi. Mereka berkata kepada sebagian yang lainnya: “ Coba kamu tanya dia” maka mereka berkata: “ Ceritakan kepada kami tentang ruh”.
Bentuk ketiga ialah kesahihan dua riwayat itu sama dan tidak ditemukan penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya. Akan tetapi,keduanya dapat dilkompromikan. Kedua sebab itu benar terjadi dan ayat turun mengiringi peristiwa tersebut karena masa keduanya berhampiran. Penyelesaiann adalah dengan menganggap terjadinya beberapa sebab turunnya ayat tersebut.
Bentuk keempat ialah keadaan dua riwayat itu sahih, tidak ada penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya atas lainnya, dan tidak pula mungkin menjadikan keduanya sekaligus sebagai Asbab An-nuzul karna waktu peristiwanya jauh berbeda. Penyelesaian masalah ini adalah dengan menganggap berulang-ulangnya ayat itu turun sebanyak Asbab An-Nuzulnya.
BEBERAPA REDAKSI ASBAB AL-NUZUL
Bentuk redaksi yang menerangkan sebab nuzul itu terkadang berupa pernyataan tegas mengenai sebab dan terkadang pula berupa pernyataan yang hanya mengandung kemungkinan mengenainya, juga ada yang berupa indikasi.
Bentuk pertama ialah jika perawi mengatakan: “sebab nuzul ayat ini adalah begini”, atau menggunakan fa’ ta’ qibi (kira-kira seperti “maka”, yang menunjukkan urutan peristiwa) yang dirangkaikan dengan kata “turunlah ayat”, sesudah ia menyebutkan peistiwa atau pertanyaan.
Bentuk kedua yaitu redaksi yang boleh jadi menerangkan sebab nuzul atau hanya sekadar menjelaskan kandungan hukum ayat ialah bila perawi mengatakan “Ayat ini turun mengenai ini”. Yang dimaksud dengan ungkapan (redaksi) ini terkadang sebab nuzul ayat dan terkadang pula kandungan hukum ayat tersebut.
Kedua bentuk redaksi tersebut mungkin menunjukkan sebab nuzul dan mungkin pula menunjukkan lain. Dua redaksi di atas jelas menunjukkan asbabun nuzul.
Redaksi berupa indikasi dan asumsi asbabun nuzul. Apabila seorang perai berkata “ayat ini turun dalam persoalan ini” atau “ayat ini tiri pada orang yang mengerjakan ini”. Lafadz seperti ini sering dimaksudkan sebagai penjelasan tema ayat atau kandungan hukum yang terdapat dalam ayat, kadang juga dimaksudkan sebagai asbabun nuzul.
Begitu pula apabila dikatakan “mungkin ayat ini turun dalam persoalan ini” atau “saya kira ayat ini turun dalam soal ini”. Redaksi yang seperti ini mengandunng pengertian asababun nuzul dan lainnya.
BERBILANGNYA RIWAYAT ASBAB AN-NUZUL
Adakalanya terdapat beberapa riwayat mengenai sebab turunnya satu ayat dengan lafal yang jelas menerangkan turunnya ayat, maka para ulama dalam menghadapi riwayat-riwayat ini telah mempunyai ukuran untuk mentarjihkan salah satu daripada riwayat-riwayat itu atau mempertemukan antara riwayat-riwayat itu dengan cara yang dapat diterima (acceptable).
Apabila terdapat dua riwayat yang kedua-duanya sahih, sedang kita tidak dapat mentarjihkan salah satu dari keduanya, maka harus kita kompromikan dengan menetapkan, bahwa ayat itu turun setelah terjadinya dua sebab itu. Misalnya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahal bin sa’ad, bahwa Uwaimir datang kepada Ashim bin Ady memimpin suku Bani Ajlan untuk bertanya sebagai berikut:
كيف تقولون فى رجل و جد مع ا مرا ته ر جلا ا يقتله فقتلو نه ام كيف يصنع؟ سل لى رسول الله صزم فا تى عا صم النبى ص.م. يارسول الله, فكره رسول الله ص.م المسا ئل وعا بها, فقال عو ىمر:
URGENSI DAN KEGUNAAN ASBAB AN-NUZUL
Mengetahui latar belakang suatu masalah sangat penting dalam memahami sesuatu. Sering kali orang terjebak pada sesuatu kesalahan fatal hanya karena tidak mengetahui apa latar belakang yang mendasari suatu kejadian. Terlebih lagi bagi sorang musafir yang ingin memahami suatu ayat dari al-Quran. Karenanya, mengetahui Asbab An-nuzul adalah suatu keharusan bagi siapa saja yang hendak mengerti isi kandungan suatu ayat, ada bebersp hikmah dan kegunaan mengetahui Asbab An-nuzul suatu ayat. Qaththan, misalnya, merangkumkan pentingnya mengetahui Asbab An-nuzul diantaranya:
Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum dalam menghadapi suatu peristiwa.
Dapat membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, apabila hukum itu dinyatakan dalam bentuk pernyataan umum. Ini di bagi mereka yang berpedoman bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus dan bukannya lafaz umum.
Apabila lafaz yang diturnkan berbentuk umum dan terdapat dalil atas pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai Asbab An-nuzul membatasi pengukhususan itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
Mengetahui Asbab An-nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna al-Quran dan menyingkap makan yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat di tafsirkan tanpa mengetahi Asbab An-nuzulnya.
Sebab nuzal yang menerangkan kepada siapa ayat itu ditunjukan sehinnga tidak serta-merta dapat ditunjukan kepada orang lain.7
Membantu dan memudahkan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui maksudnya dengan jelas kecuali dengan mengetahui asbabun nuzul.
Turunnya al-Qur’an ketika terjadi sebuah peristiwa menunjukkan kemukjizatannya. Kebersamaaan dengan sebuah peristiwa menjadi argumen atas mereka yang mengatakan al-Quran adalah cacatan orang-orang terdahulu.
Pengetahuan asbabun nuzul merupakan jaln terbaik untuk memahami dan menyingkap makna-makna al-Qur’an yang sering kali tidak di ketahui maksudnya kecuali setelah mengetahui asbabun nuzul.
Menghindarkan kesalahan pengambilan hukum akibat salah faham dalam istinbath karena ketidaktahuan asbabun nuzul, dan lain sebagainya.
Di samping kegunaan seperti yang disebutkan, manfaat lain dari sebab nuzul ayat yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Misalnya, sebagai pengantar dalam memulai pelajaran, siswa pada umumnya senang pada suatu cerita atau kisah suatu peristiwa. Dengan demikian, pelajaran akan mudah ditangkap dan lebih berkesan. Dengan kisah yang menarik, akan dapat menimbulkan minat di hati siswa, dan pada gilirannya menimbulkan minat mempelajari ayat-ayat A-Quran.
Bentuk pertama ialah jika perawi mengatakan: “sebab nuzul ayat ini adalah begini”, atau menggunakan fa’ ta’ qibi (kira-kira seperti “maka”, yang menunjukkan urutan peristiwa) yang dirangkaikan dengan kata “turunlah ayat”, sesudah ia menyebutkan peistiwa atau pertanyaan.
Bentuk kedua yaitu redaksi yang boleh jadi menerangkan sebab nuzul atau hanya sekadar menjelaskan kandungan hukum ayat ialah bila perawi mengatakan “Ayat ini turun mengenai ini”. Yang dimaksud dengan ungkapan (redaksi) ini terkadang sebab nuzul ayat dan terkadang pula kandungan hukum ayat tersebut.
Kedua bentuk redaksi tersebut mungkin menunjukkan sebab nuzul dan mungkin pula menunjukkan lain. Dua redaksi di atas jelas menunjukkan asbabun nuzul.
Redaksi berupa indikasi dan asumsi asbabun nuzul. Apabila seorang perai berkata “ayat ini turun dalam persoalan ini” atau “ayat ini tiri pada orang yang mengerjakan ini”. Lafadz seperti ini sering dimaksudkan sebagai penjelasan tema ayat atau kandungan hukum yang terdapat dalam ayat, kadang juga dimaksudkan sebagai asbabun nuzul.
Begitu pula apabila dikatakan “mungkin ayat ini turun dalam persoalan ini” atau “saya kira ayat ini turun dalam soal ini”. Redaksi yang seperti ini mengandunng pengertian asababun nuzul dan lainnya.
BERBILANGNYA RIWAYAT ASBAB AN-NUZUL
Adakalanya terdapat beberapa riwayat mengenai sebab turunnya satu ayat dengan lafal yang jelas menerangkan turunnya ayat, maka para ulama dalam menghadapi riwayat-riwayat ini telah mempunyai ukuran untuk mentarjihkan salah satu daripada riwayat-riwayat itu atau mempertemukan antara riwayat-riwayat itu dengan cara yang dapat diterima (acceptable).
Apabila terdapat dua riwayat yang kedua-duanya sahih, sedang kita tidak dapat mentarjihkan salah satu dari keduanya, maka harus kita kompromikan dengan menetapkan, bahwa ayat itu turun setelah terjadinya dua sebab itu. Misalnya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahal bin sa’ad, bahwa Uwaimir datang kepada Ashim bin Ady memimpin suku Bani Ajlan untuk bertanya sebagai berikut:
كيف تقولون فى رجل و جد مع ا مرا ته ر جلا ا يقتله فقتلو نه ام كيف يصنع؟ سل لى رسول الله صزم فا تى عا صم النبى ص.م. يارسول الله, فكره رسول الله ص.م المسا ئل وعا بها, فقال عو ىمر:
URGENSI DAN KEGUNAAN ASBAB AN-NUZUL
Mengetahui latar belakang suatu masalah sangat penting dalam memahami sesuatu. Sering kali orang terjebak pada sesuatu kesalahan fatal hanya karena tidak mengetahui apa latar belakang yang mendasari suatu kejadian. Terlebih lagi bagi sorang musafir yang ingin memahami suatu ayat dari al-Quran. Karenanya, mengetahui Asbab An-nuzul adalah suatu keharusan bagi siapa saja yang hendak mengerti isi kandungan suatu ayat, ada bebersp hikmah dan kegunaan mengetahui Asbab An-nuzul suatu ayat. Qaththan, misalnya, merangkumkan pentingnya mengetahui Asbab An-nuzul diantaranya:
Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum dalam menghadapi suatu peristiwa.
Dapat membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, apabila hukum itu dinyatakan dalam bentuk pernyataan umum. Ini di bagi mereka yang berpedoman bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus dan bukannya lafaz umum.
Apabila lafaz yang diturnkan berbentuk umum dan terdapat dalil atas pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai Asbab An-nuzul membatasi pengukhususan itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
Mengetahui Asbab An-nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna al-Quran dan menyingkap makan yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat di tafsirkan tanpa mengetahi Asbab An-nuzulnya.
Sebab nuzal yang menerangkan kepada siapa ayat itu ditunjukan sehinnga tidak serta-merta dapat ditunjukan kepada orang lain.7
Membantu dan memudahkan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui maksudnya dengan jelas kecuali dengan mengetahui asbabun nuzul.
Turunnya al-Qur’an ketika terjadi sebuah peristiwa menunjukkan kemukjizatannya. Kebersamaaan dengan sebuah peristiwa menjadi argumen atas mereka yang mengatakan al-Quran adalah cacatan orang-orang terdahulu.
Pengetahuan asbabun nuzul merupakan jaln terbaik untuk memahami dan menyingkap makna-makna al-Qur’an yang sering kali tidak di ketahui maksudnya kecuali setelah mengetahui asbabun nuzul.
Menghindarkan kesalahan pengambilan hukum akibat salah faham dalam istinbath karena ketidaktahuan asbabun nuzul, dan lain sebagainya.
Di samping kegunaan seperti yang disebutkan, manfaat lain dari sebab nuzul ayat yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Misalnya, sebagai pengantar dalam memulai pelajaran, siswa pada umumnya senang pada suatu cerita atau kisah suatu peristiwa. Dengan demikian, pelajaran akan mudah ditangkap dan lebih berkesan. Dengan kisah yang menarik, akan dapat menimbulkan minat di hati siswa, dan pada gilirannya menimbulkan minat mempelajari ayat-ayat A-Quran.
KESIMPULAN
Asbab An-Nuzul adalah turunnya ayat-ayat al-Qur’an. alQur’an diturunkan Allah SWT. Kepada Muhammad SAW. secara berangsur-angsur dalam masa lebih kurang 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran . karena itu, dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan dalam tatanan kehidupan manusia merupakan sebab turunnya al-Qur’an. Ini adalah sebab umum bagi turunnya al-Qur’an.
Asbab An-Nuzul adalah turunnya ayat-ayat al-Qur’an. alQur’an diturunkan Allah SWT. Kepada Muhammad SAW. secara berangsur-angsur dalam masa lebih kurang 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran . karena itu, dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan dalam tatanan kehidupan manusia merupakan sebab turunnya al-Qur’an. Ini adalah sebab umum bagi turunnya al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
Drajad, Amroeni. 2017. Ulumul Quran Pengantar Ilmu Al- Qur’an. Depok: Kencana
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2016. Studi ilmu-ilmu Quran. Bogor: Litera antar Nusa
Syadali, ahmad dan Rofi’i, Ahmad. 2000. Ulumul Quran 1. Bandung: CV pustaka setia
Abdullah, mawardi.2014. Ulumul Quran. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Drajad, Amroeni. 2017. Ulumul Quran Pengantar Ilmu Al- Qur’an. Depok: Kencana
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2016. Studi ilmu-ilmu Quran. Bogor: Litera antar Nusa
Syadali, ahmad dan Rofi’i, Ahmad. 2000. Ulumul Quran 1. Bandung: CV pustaka setia
Abdullah, mawardi.2014. Ulumul Quran. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Comments
Post a Comment